Kemensos Jaring TKSK Maluk Masuk Lima Besar Nasional

Masyarakat KSB bisa berbangga, sebab Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Maluk, Muhjar dinilai untuk masuk lima besar penghargaan TKSK Teladan Nasional Tahun 2019. Tim penilai Kementerian Sosial RI pun turun ke KSB. Tim menilai secara faktual kegiatan yang dilakukan Muhjar. Termasuk mewawancarai sejumlah pihak di Kecamatan Maluk untuk mendukung penilaian. Tim penilai diketuai M. Rondang Siahaan, M.Si didampingi Kabid Pemberdayaan Sosial, Burhan Daeng Mangago, S.PI., M.Si dan dua Kasinya, Kamis pagi (26/09/19).

Dihadapan Camat dan warga binaan Muhjar, Ketua Tim Penilai mengatakan, Muhjar saat ini masuk 15 besar nasional untuk TKSK Teladan 2019 mewakili NTB. Muhjar satu dari 10 ribuan lebih TKSK di Indonesia dinilai berhasil oleh Kemensos. Ia mampu melaksanakan pendampingan kegiatan Kemensos dan memprakarsai warga Desa Bukit Damai dan Mantun untuk membudidaya sayuran dengan sistem hidroponik (media air). Nantinya kelima besar TKSK teladan akan mendapat penghargaan di peringatan Hari Kesejahteraan Nasional Tahun 2019.

Tim penilai pun melakukan wawancara untuk menggali informasi tentang kegiatan Muhjar, mulai dari Camat Maluk, Dinas Sosial KSB, Koordinator TKSK Kabupaten, Pendamping PKH, Karang Taruna hingga warga binaan Muhjar. Termasuk melihat langsung lokasi budidaya sayuran sistem hidroponik, baik warga binaan maupun di rumah Muhjar sendiri. Dalam kesempatan ini, Camat Maluk Anugerah mengungkapkan, sosok Muhjar sangat membantu Pemerintah Kecamatan. Muhjar telah melaksanakan pendampingan sebagai koordinator, administrator dan fasilitator yang baik untuk program Kemensos.

Di rumah Muhjar, Tim Penilai melihat lokasi hidroponik tanaman sayur. Kebetelun saat dikunjungi, wadah hidroponik bapak dari lima anak itu berisi kangkung dewasa, bibit kangkung dan sawi. Sementara di wadah polybag media tanah dan sekam, berbagai bibit sayur seperti terong, seledri, kacang panjang tumbuh subur di halaman samping rumahnya. Muhjar yang sudah 10 tahun menjadi TKSK mengatakan, dirinya hanya membibit sayuran. Bibit itu kemudian dibagian kepada warga binaannya untuk dibesarkan. Tujuannya adalah agar warga mandiri memproduksi sayur, sehingga tidak tergantung dengan sayur yang didatangkan dari Lombok. Warga juga bisa menghemat uang belanjanya dan untuk meningkatkan kesejahteraannya dengan cara menjual sayur yang dibudidayakan.